Uncategorized

Doa Ketika Menerima Dan Mengeluarkan Zakat

By April 18, 2021No Comments

Zakat diwajibkan kepada orang muslim yang merdeka dan miliki harta yang telah capai nisab dari segala style harta yang kudu dizakati. Harta diakui telah capai nisab andaikata memenuhi beberapa syarat berikut:Lebih dari kebutuhan pokok, seperti makan, sandang, tempat tinggal, kendaraan dan alat-alat kerja.

-Telah capai haul (satu tahun menurut kalender) Hijriah. Permulaan haul dihitung dari pertama miliki nisab. Harta yang -telah capai nisab ini kudu tetap utuh setahun penuh. Jika di tengah-tengah tahun, nisab berkurang, lantas prima lagi, perhitungan haul dimulai dari waktu prima sesudah menyusut tersebut.


mayoritas ulama berpendapat bahwa harta yang kudu dizakati karena ‘ain (barangnya) yang kudu dizakati seperti emas, perak, dan binatang ternak disyaratkan capai nisab sepanjang setahun penuh.

Jika nisab ini menyusut terhadap satu waktu di tengah-tengah tahun, perhitungan haul menjadi terputus. Jika sesudah menyusut nisab terpenuhi lagi, perhitungan haul dimulai kembali dari waktu terpenuhinya nisab ini.

Sementara Abu Hanafiah menyatakan bahwa yang dijadikan patokan adalah terpenuhinya nisab terhadap awal tahun dan akhir tahun. Karena itu, berkurangnya nisab di tengah-tengah tahun tidak memastikan perhitungan haul.

Jika seseorang miliki dua ratus dirham, lantas di tengah-tengah tahun menyusut hingga cuma tersisa satu dirham, namun terhadap akhir tahun kuantitas dirham menjadi prima dua ratus maka harta ini kudu dizakati.

Atau, jikalau seseorang miliki empat puluh ekor kambing, lantas di tengah-tengah tahun menyusut hingga cuma tersisa satu kambing, namun akhir tahun kuantitas kambing menjadi empat puluh ekor maka harta ini kudu dizakati.

Dijelaskan dalam buku “Panduan Lengkap Ibadah: Menurut Al-Qur’an, Al-Sunnah, dan Pendapat Para Ulama’ oleh Muhammad Al-Baqir disebutkan An-Nawawi bahwa lebih afdal mengeluarkan zakat fitrah sendiri supaya menjadi suri tauladan bagi orang lain dan juga supaya tidak timbul prasangka tidak baik bagi dirinya, seolah-olah dia tidak mengeluarkan zakat.

Al-qur’an mengajarkan kepada Nabi Saw supaya mendoakan bagi para pembayar zakat: Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketentraman jiwa bagi mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketentraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui (QS. Al-Taubah [9]: 103).

Sebaliknya seseorang yang mengeluarkan zakat “Agar tidak meremehkan pahala zakat kamu, berdoalah disaat mengeluarkannya:

Allahummaj-‘alha maghnaman wa la taj’alha maghraman

Artinya: “Ya Allah, jadikanlah [zakatku] ini sebagai keberuntungan bagiku [untuk dunia dan akhirat] dan janganlah engkau menjadikannya sebagai denda [yang menyebabkan kegundahan di hatiku]).”

Adapun si penerima zakat , hendaklah jangan lupa pula mendoakan bagi si pemberi zakat. Sebagaimana disabdakan oleh Nabi Saw., “Siapa saja yang tidak berterimakasi kepada manusia, memang tidak berterimakasih kepada Allah”. (HR. Ahmad).

Karena itu pula beliau mengajarkan kepada siapa yang terima kebaikan dari seseorang, supaya berbicara kepadanya:

Jazakallahu khairan katsiran


Artinya: “Semoga Allah memberimu balasan kebaikan yang banyak.”

Atau seperti disarankan oleh Imam Syafi’i (rahimahullah):

Ajarakallahu fi ma a’thait. Wa ja’alahu laka thahuran. Wa baraka laka fi ma abqait.

Artinya: “Semoga Allah memberimu ganjaran atas pemberianmu. Dan menjadikannya layanan penyucian bagimu. Serta memberimu keberkahan dalam harta yang tetap ada padamu.”