Salah satu fungsi cerita rakyat pendek adalah  pendidikan. Cerita yang dikisahkan turun temurun secara lisan ini  sarat dengan nilai  moral dan budaya.  Nilai-nilai inilah yang  diharapkan  akan membangun karakter  pendengarnya.

Cerita yang sarat dengan pesan ini , jika dilisankan tentu saja tidak akan seperti menggurui, sehingga anak anak akan merasa seperti terhibur ketika mendengarnya.

Cerita ini bisa Anda lisankan pada saat menjelang  tidur, sebagai cerita yang mengiringi  istirahat anak-anak. Selain untuk menanamkan nilai moral yang baik,  kedekatan dengan orangtua pun akan lebih terbangun.

Simak, beberapa cerita rakyat pendek yang dapat Anda  kisahkan pada anak- anak Anda.

Putri Mandalika

Cerita rakyat pendek ini berasal dari Pulau Lombok. Cerita ini mengisahkan seorang Putri yang bernama Mandalika yang mengorbankan dirinya  agar tidak ada perpecahan  dan perang antar suku. 

Alkisah Putri Mandalika terkenal cantik dan berhati baik.  Banyak  pangeran dari berbagai kerjaan yang melamarnya. Putri Mandalika tahu, ketiak ia memutuskan memilih seorang pangeran, maka mungkin saja akan terjadi perpecahan di antara mereka.  Putri Mandalika kemudian  bertapa di tepi pantai. Pada hari yang telah ditentukan, ia kemudian mengatakan tidak memilih salah satu dari pangeran tersebut dan kemudian menceburkan diri ke laut. 

tubuh putri dicari oleh banyak orang, namun tidak ditemukan. Mereka malah menemukan ratusan cacing yang menyala dan berwarna-warni yang diyakini sebagai penjelmaan Putri Mandalika.

Akhirnya, pada tanggal 20 bulan 10 pada penanggalan suku Sasak atau hari di mana sang Putri hilang di laut mereka mengadakan upacara tradisional  yang dinamakan Bau Nyale sebagai penghormatan atas Putri Mandalika.

Batu Menangis

Kisah ini  berasal dari Kalimantan Barat. Menceritakan seorang anak yang durhaka dan tidak mengakui ibunya sebagai orang tua yang melahirkannya. Ia malah  mengatakan ibunya sebagai pembantu.

Alkisah disebuah desa tumbuhlah seorang gadis cantik dari sebuah keluarga miskin. Sang Ibu yang  seharian bekerja keras demi anaknya selalu dikatakan kurang, karena sang anak menginginkan pakaian dan perhiasan yang mewah.

Sang Ibu yang sangat menyayangi putri tunggalnya itu pun bekerja lebih keras lagi sehingga  menjadi kurus dan tak pernah mempunyai waktu untuk beristirahat. Sementara sang  anak hanya sibuk bersolek dan bergembira bersama teman-temannya.

Pada suatu hari, Ibu dan anak tersebut pergi ke pasar. Sang Anak memperlakukan ibunya selayaknya pembantu. Ia membiarkan ibunya berjalan terbungkuk-bungkuk karena kelelahan dan membawa barang yang berat. 

Di jalan ia bertemu seseorang yang  menanyakan siapakah perempuan yang berjalan di belakangnya itu. Ia menjawab bahwa perempuan itu adalah pembantunya. Ibunya yang merasa  terhina menangis terus sepanjang jalan. 

Sesampainya di rumah, ia berdoa dan meminta Tuha agar menghukum anaknya. Tiba-tiba petir menggelegar dan perlahan  tubuh sang Anak berubah menjadi batu. Anehnya, dari bagian mata anaknya yang  telah menjadi batu itu keluar aliran air. Anaknya memohon agar terbebas dari kutukan batu, tetapi percuma. Ia tetap dihukum’ Batu itu  kini dikenal sebagai batu menangis, karena mengeluarkan air dari bagian atas matanya.

Bawang Merah Bawang Putih

Cerita rakyat pendek dari Jawa Tengah ini  mengingatkan  anak-anak untuk tidak bersikap iri hati dan serakah pada saudaranya sendiri.

Alkisah dua gadis cantik bernama Bawang Merah dan Bawang  Putih. Dua gadis bersaudara kandung ini memiliki sifat yang berbeda. Bawang merah begitu jahat kepada adiknya, Bawang Putih. Adapun sifatnya itu karena Bawang Merah iri hati dengan kecantikan  adiknya.

Suatu hari karena kebaikan hatinya Bawang Putih mendapatkan hadiah labu yang ternyata  berisi  emas permata. Sementara Bawang Merah karena sifat  iri hati dan serakahnya ia mendapatkan labu yang berisi ular berbisa.
Nah,Anda dapat mengunjungi website Wisatawan.id untuk mendapatkan cerita rakyat pendek lainnya. Terdapat banyak kumpulan cerita  yang dapat menjadi sumber bacaan bagi anak-anak Anda.Selamat mendongeng.